Kiai Abdul Djalil Mustaqim Ulama Berpengaruh dari Tulungagung
Salah satu pesantren unik yang ada di Jawa Timur, tepatnya di kota Tulungagung adalah pesantren PETA atau Pasulukan Tarekat Agung. Pesantren ini unik karena santrinya adalah pengikut tarekat. Perkembangan pesantren tidak luput dari nama KH. Abdul Djalil Mustaqim.
Selain masyhur sebagai mursyid tarekat, beliau juga dikenal salah satu ulama kharismatik dari yang berpengaruh dalam pendidikan pesantren di Indonesia.
Pria kelahiran 20 Juni 1943 ini berasal Desa Nawangan, Tulungagung, Jawa Timur. Mustaqim kecil tumbuh dalam lingkungan keluarga religius yang kuat. Ayahnya, Kiai Mustaqim Husain, adalah seorang mursyid tarekat sekaligus pejuang kemerdekaan. Tentang kelahirannya ini ada beberapa peristiwa unik. Sebelum kelahirannya, sejumlah ulama telah memberi isyarat tentang masa depannya. Salah satunya adalah KH. Abdul Fattah dari Mangunsari, Tulungagung. Kiai Fattah pernah berpesan kepada ibu Kiai Jalil bahwa anak dalam kandungannya kelak akan menjadi βpaku tanah Jawa.β Ungkapan tersebut sebagai pertanda akan lahirnya sosok ulama besar yang kokoh memegang peran penting bagi masyarakat.
Dan apa yang dikatakan oleh kiai Fattah ternanya terbukti kemudian hari. Pada usia lima tahun, KH. Abdul Djalil Mustaqim telah dibaiat tarekat oleh Syekh Abdur Rozaq at-Tarmasi dari Pacitan, Jawa Timur. Dalam sebuah kisah yang banyak dituturkan para murid, ia dipanggul sang syekh mengelilingi alun-alun Tulungagung sebelum prosesi baiat dilangsungkan. Momen itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya di dunia tasawuf dan tarekat.
Dari sosok ayah KH. Abdul Djalil Mustaqim mewarisi tradisi keilmuan dan perjuangan spiritual. Didikan itu yang kemudian membentuk jati diri Kiai jalil menjadi pemimpin umat yang disegani dan penuh teladan. Sedari usia dini beliau belajar agama langsung dari ayahnya. Selain itu juga mendapat pendidikan Al-Qurβan, fiqih, akhlak, dan tauhid dari KH. Ahmad Sujaβi yang rumahnya tidak jauh dari lingkungan pesantren. Adapun pendidikan formalnya ditempuh hingga lulus SMPD Tulungagung pada 1958.
Setelah itu menjadi mondok di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, yang kala itu masih dalam asuhan KH. Achmad Djazuli Utsman. Di Ploso, Kiai Abdul Jalil terkenal sebagai santri yang tawaduk dan tekun. Setelah itu berlanjut nyantri ke Pesantren Mojosari, Nganjuk sebagai murid KH. Manshur. Selain nyantri, ia juga sempat kuliah di IAIN Tulungagung jurusan Bahasa Arab, meski tidak sampai selesai.
Di masa mudanya juga berguru kepada Ajengan Khudlori di Malangbong, Garut, Jawa Barat untuk memperdalam ajaran tarekat. Selain itu juga melakukan latihan-latihan spiritual yang berat seperti puasa panjang dan riyadhah. Pengalaman nyantri di berbagai pondok pesantren inilah yang juga membentuk kedalaman spiritualnya sebagai calon mursyid.
Menjadi Mursyid dan Pengasuh PETA Tulungagung
Pada 1970, di usia 28 tahun, KH. Abdul Djalil Mustaqim menjadi mursyid sekaligus pengasuh Pondok Pesulukan Tarekat Agung (PETA) Tulungagung. Tugas ini adalah bagian dari melanjutkan estafet kepemimpinan ayahnya dan mengembangkan pesantren. Sebagai mursyid Tarekat Syadziliyah, ia dikenal berwibawa, bijaksana, dan dermawan. Kepemimpinannya tidak hanya berfokus pada pembinaan spiritual, tetapi juga pemberdayaan sosial. Hal ini terlihat dengan mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PETA untuk membantu masyarakat kecil. Selain itu juga menyekolahkan banyak murid hingga menjadi sarjana di berbagai bidang. Kiai Jalil juga aktif dalam program sosial seperti santunan yatim, Prokasih (Program Kali Bersih), dan Prokubsih (Program Kuburan Bersih).
Pergaulan Kiai Jalil sangat luas mulai kalangan pejabat nasional hingga masyarakat biasa. Hal tersebut terlihat dari tokoh penting pernah bersilaturahmi atau berdiskusi dengannya, yang menunjukkan pengaruh dan wibawanya di tingkat nasional. Namun dalam kesehariannya, KH. Abdul Djalil Mustaqim adalah sosok sederhana namun rapi. Beliau kerap mengenakan sarung, kopiah hitam, dan baju putih. Beliau selalu memakai minyak wangi yang tersimpan dalam sakunya. Sikapnya ramah, murah senyum, dan tidak membeda-bedakan tamu yang datang. Meski memiliki jaringan luas, ia tetap membumi dan dekat dengan masyarakat kecil. Kepeduliannya terhadap yatim piatu, janda, dan kaum dhuafa menjadi bagian penting dari dakwahnya.
KH. Abdul Djalil Mustaqim wafat pada Jumat Wage, Januari 2005, sekitar pukul 01.30 dini hari. Jenazah beliau dimakamkan di kompleks Pondok PETA Tulungagung, berdampingan dengan ayahnya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun warisan perjuangannya tetap hidup. Hingga kini Pondok PETA Tulungagung terus menjadi pusat pembinaan tarekat dan pendidikan Islam. Nama KH. Abdul Djalil Mustaqim dikenang sebagai ulama besar, mursyid tarekat, dan tokoh yang memadukan kedalaman spiritual dengan kepedulian sosial secara nyata.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement