Jalan Dakwah Kiai Zainuddin Mojosari
Di Mojosari Kabupaten Nganjuk makam Kiai Zainuddin selalu ramai dengan peziarah yang datang. Beliau tidak hanya terkenal sebagai pendidik tetapi juga waliyullah dan ulama yang unik dalam berdakwah. Selain itu Kiai Zainuddin pada masa hidupnya hidupnya terkenal dengan kepeduliannya terhadap lingkungan.
Bila seseorang memasuki rumahnya di masa itu akan mendapati pemandangan yang tidak biasa bagi seorang ulama. Di sekeliling rumah ada sapi, kambing, ayam, bebek, bahkan kuda berkeliaran dalam harmoni. Selain itu juga sangat menjaga kebersihan lingkungan.
Kiai Zainuddin lahir sekitar tahun 1850 di Padangan, Bojonegoro. Beliau merupakan keturunan keluarga santri yang membentuk dirinya sejak kecil. Pada usia yang terbilang belia, 15 tahun, ia berangkat menimba ilmu ke Pesantren Langitan, Tuban. Di sana, ia dikenal sebagai murid yang tidak hanya cerdas, tetapi juga halus budi pekertinya. Pengabdiannya kepada sang guru, Kiai Sholeh, dilakukan tanpa jeda, tanpa pamrih, dan tanpa keluh-kesah.
Kesungguhan itu pula yang kelak menjadi fondasi keberkahan ilmunya. Setelah Langitan, jalan pengembaraannya berlanjut ke sejumlah ulama besar, termasuk KH. Sholeh Darat, serta Kiai Zainuddin Cepoko Nganjuk. Dari jaringan keilmuan inilah yang kemudian memperkaya spiritualnya. Tidak salah kalau kemudian beliau terkenal sebagai ulama tasawuf yang dihormati.
Dakwah Yang Mengakar
Kemudian takdir kemudian membawanya ke Pesantren Mojosari . Di pesantren inilah ia menantu dari gurunya dan meneruskan estafet kepengasuhan. Pesantren Mojosari, yang didirikan oleh Kiai Ali Imron dari Grobogan, dikenal sebagai pusat pembelajaran tasawuf. Rujukan utama para santri antara lain Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali serta al-Hikam karya Ibnu Athaillah.
Dari bilik-bilik pesantren itu, lahirlah para tokoh besar yang kemudian mewarnai sejarah Islam Nusantara. Sebut saja nama K.H. Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Kemudian K.H. Achmad Djazuli Utsman, K.H. Ahmad Jauhari Umar hingga K.H. Marzuqi Dahlan. Jejak keilmuan ulama-ulama besar inilah yang menjadi bukti keampuhan metode pembelajaran Kiai Zainuddin.
Salah satu ciri khas kepemimpinan Kiai Zainuddin dalam dakwahnya adalah keberaniannya menggunakan pendekatan sosial yang lembut dan mengakar. Kala itu Mojosari terkenal sebagai kawasan dengan tradisi kesenian rakyat yang kuat, terutama jaranan. Saat sebagian ulama memandang seni rakyat secara curiga, namun Kiai Zainuddin justru membukakan pintu. Hal inilah yang kemudian menimbulkan kontroversi.
Akan tetapi Kiai Zainuddin memandang kesenian bukan ancaman, melainkan jembatan. Lewat pagelaran jaranan dan kesenian kampung, masyarakat abangan yang selama ini jauh dari pesantren pelan-pelan dirangkul. Mereka datang, mereka mendengar, dan akhirnya mereka mengikuti ajaran sang kiai. Strategi dakwah kultural ini terbukti efektif: masyarakat Mojosari kemudian menjadi pendukung kuat tradisi Islam pesantren. Cara pandang inklusif ini menunjukkan kepekaan sosial Kiai Zainuddin. Dakwah tidak selalu harus lantang, kadang harus masuk lewat ruang kebudayaan yang dicintai masyarakat.
Kiai Zainuddin wafat pada tahun 1954 dan dimakamkan di lingkungan pemakaman keluarga Pesantren Mojosari. Meski sudah wafat, warisan keilmuan Kiai Zainuddin tetap hidup hingga kini. Beliau mewariskan juga tentang kesederhanaan, cinta pada seluruh makhluk, keteguhan dalam ibadah, serta visi dakwah yang merangkul, bukan menjauhkan. Hari ini, Pesantren Mojosari masih menjadi saksi bisu bagaimana seorang kiai yang dekat dengan lingkungan dan alam mampu melahirkan ulama-ulama besar. Nama Kiai Zainuddin melebur menjadi bagian dari sejarah Islam di Indonesia. Dakwah yang lembut, bersahaja, dan tetap mengilhami umat Islam hingga saat ini.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement