Patung Arca Dewa Ditemukan Penggali Kubur di Mojokerto, Batu Bata Kuno Juga Berserakan di Lokasi
Sebuah arca yang diduga berwujud Dewa ditemukan oleh penggali kubur di Dusun Mojojejer, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Menariknya, temuan ini bukanlah baru terjadi, arca tersebut ditemukan sekitar tiga hingga empat tahun lalu. Namun baru dilaporkan ke pihak berwenang.
Informasi temuan itu disampaikan Kepala Desa Pesanggrahan kepada tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, yang kemudian menindaklanjuti dengan mendatangi lokasi bersama Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Mojokerto pada Jumat, 10 Oktober 2025.
Pantauan petugas di lokasi menunjukkan, selain arca, juga ditemukan sejumlah batu bata kuno yang berserakan di area pemakaman. Beberapa di antaranya bahkan telah dimanfaatkan warga sebagai bahan kijing makam dan pondasi lampu penerangan di area tersebut.
Plt Kepala Dusun Mojojejer, Muhammad Anis, membenarkan adanya penemuan arca tersebut. Menurutnya, arca ditemukan warga yang tengah menggali makam pada malam hari, sekitar tiga hingga empat tahun silam.
βSaya tidak tahu persis kronologinya. Tapi perangkat desa waktu itu yang melaporkan ada temuan arca saat penggalian makam,β jelas Anis.
Ia menambahkan, warga yang menemukan arca tidak berani membawanya pulang. Arca kemudian diamankan oleh perangkat desa dan disimpan di tempat penyimpanan keranda makam setempat.
Saat ini, tim dari BPK Wilayah XI Jawa Timur masih melakukan penelitian dan pendataan terhadap arca tersebut untuk memastikan keasliannya serta konteks arkeologis dari temuan di area pemakaman tersebut.
Analis Cagar Budaya dan Permuseuman BPK Wilayah XI Jawa Timur, Ning Suryati, menyebut pihaknya baru menerima laporan resmi penemuan arca itu pada Senin, 6 Oktober 2025. Meski arca telah ditemukan warga penggali makam tiga hingga empat tahun sebelumnya.
Menurut Suryati, arca berukuran tinggi 45 cm dan lebar 18 cm tersebut kemungkinan menggambarkan sosok dewa laki-laki. Namun jenisnya belum bisa ditentukan karena tidak membawa atribut khas.
βKalau arca membawa atribut, kami bisa langsung tahu. Tapi arca ini tidak membawa apa-apa. Posisi duduk bersila, memakai kain, tangan di depan, ada mahkota, anting, kalung, dan gelang,β jelasnya.
Selain arca, temuan batu bata kuno yang berserakan di area pemakaman juga memperkuat dugaan adanya struktur lama di sekitar lokasi. Bahkan, sebagian bata sudah dimanfaatkan warga sebagai kijing makam dan pondasi lampu penerangan.
Sebagai langkah awal, BPK Wilayah XI akan menerbitkan surat rekomendasi kepada Disbudporapar Mojokerto terkait penanganan lebih lanjut.
βPemindahan arca akan mempertimbangkan keputusan masyarakat desa. Bila warga setuju, arca akan dipindahkan untuk pelestarian. Bila tidak, mereka akan kami libatkan untuk ikut menjaga peninggalan tersebut,β imbuh Suryati.
Hal menarik lainnya, menurut Suryati, adalah nama Desa Pesanggrahan itu sendiri. Dalam istilah Jawa berarti tempat singgah. Hal tersebut membuka peluang penelitian lebih jauh mengenai kemungkinan lokasi tersebut pernah menjadi jalur transit tokoh penting kerajaan. Bahkan tak menutup kemungkinan pernah disinggahi Raja Hayam Wuruk pada masa Majapahit.
βMungkin Desa Pesanggrahan ini sebagai persinggahan, namun perlu kami telusuri lagi sejarahnya apakah dahulu Hayam Wuruk pernah singgah di sini,β ujarnya.
Saat ini, proses pendataan dan kajian arkeologis masih berlangsung. Apakah arca ini hanya artefak lepas, atau menjadi pintu gerbang menuju jejak pemukiman kuno, bahkan jalur kerajaan, masih menjadi misteri yang menunggu untuk diungkap.
Advertisement