Bekelan, Permainan Lawas Sembari Nunggu Jam Sekolah
Permainan anak-anak kadang tak terduga. Kadang pula muncul dan tenggelam. Bosan satu, mainan yang lain. Yang lain bosan, kembali ke mainan lawasnya.
Bekel. Bola bekel. Bekelan. Kapan terakhir Anda melihat. Kemarin? Kemarinnya lagi? Minggu lalu? Bulan kemarin? Atau Tahun kemarin? Bola bekel seperti melompat diantara waktu.
Hari ini ada, seminggu muncul, dimainkan dengan sukacita, anak-anak bertanding, tukaran, bertengkar, otot-ototan, yang kalah nangis, dendam sebentar, sorenya sudah melingkar lagi. Bekelan lagi.
Tiga orang bocah ini main bekel sembari nunggu jam sekolah. Mereka masuk jam siang. Dua bocah lelaki, satu perempuan. Sama-sama pinternya. Sama-sama terampil memainkan bola. Padahal, dulunya, mainan bola bekel identik dengan mainan perempuan. Anak lelaki mana telaten, terlalu lembut, kurang keras, kurang tantangan.
Si bocah perempuan Vira namanya, si lelaki baju kuning Dikki. Baju merah Noval namanya. Mereka satu sekolah SDN Petemon 11, Simo Kewagean, Surabaya. Vira dan Noval kelas 4, sedang Dikki kelas 3. Mereka sepermainan, orang tua masing-masing adalah warga Petemon 4, Surabaya.
Bekel, permainan bola bekel, diperkampungan, memang tidak semasif layang-layang. Layang-layang cenderung keras dan menghabiskan uang. Beli benang gelasan yang tajam kemudian dibuat bertanding sambitan. Putus, kalah, layang-layang kemudian dikejar seperti setan. Hingga kadang si anak pengejar tak ingat keselamatan. Kalau sudah begini orang tua cenderung marah dan uring-uringan.
Permainan di kampung, dolanan ala anak, cukup ditentukan juga dengan penjual mainan yang ada. Para penjual itu kerap "menghadang" anak-anak di pintu sekolah. Bersaing dengan aneka jajanan yang biasanya juga berserak di depan sekolah.
Mereka pintar memainkan sugesti permainan, sehingga anak mudah tergoda untuk membeli. Satu bocah berhasil tergoda, maka memungkinkan satu sekolah akan mainkan apa yang ada di depan mata. Bekel? Uhhh masih bisa memainkan tidak ya. (*)
Advertisement