Zoom Belum Aman
Aplikasi Zoom belum aman.Ā Terdapat gangguan saat Wakil PresidenĀ Ma'ruf Amin yang diganggu saat menjadi pembicara dalam Webinar Nasional tentang Ekonomi Syariah di Indonesia: Kebijakan Strategis Pemerintah menujuĀ New Normal LifeĀ yang diselenggarakan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Kamis kemarin.
Adanya gangguan itu menunjukkan aplikasi Zoom yang dipakai dalam webinar itu belum aman.
Menurut pakar keamanan siber dari CISSReC DrĀ Pratama Persadha, Ā aplikasi ini punya kerawanan karena penggunanya belum memprioritaskan keamanan.Ā Ā Pratama menjelaskan bahwa zoombombing adalah bentuk ancaman terhadap para pengguna Zoom. Para peretas masuk lewat link atau tautan yang disebarkan maupun celah keamanan yang ada.
"Sekali masuk, para peretas bisa mengirimkan berbagaiĀ fileĀ dalamĀ meetingĀ tersebut sekaligus mengganggu proses rapatĀ online. Hal inilah yang kemungkinan terjadi dalam webiner yang diikuti Wapres RI K.H. Ma'ruf Amin di UIN Malang," katanya.
Sebelumnya, kata Pratama, lebih dari 500.000 akun Zoom, termasuk yang berbayar, diperjualbelikan diĀ dark webĀ atau web gelap. Bahkan, banyak di antaranya adalah akun yang dimiliki pemerintahan dan perusahaan besar.
Ia mengemukakan bahwa Zoom sendiri sudah mendapatkan berbagai kritikan atas keamanan sejak awal 2020. Oleh karena itu, sebaiknya jajaran pemerintahan, terutama "Ring 1 Presiden", menggunakan aplikasiĀ video conferenceĀ yang lebih aman.
"Sebaiknya membuat aplikasi sendiri. Badan Siber dan Sandi Negara atau BSSN bisa memberi solusi terkait dengan hal ini," kata Pratama yang pernah sebagai pejabat Lembaga Sandi NegaraĀ yang kini menjadi BSSN.
Para peretas dan pembeli akun Zoom, lanjut dia, sering menggunakannya untuk zoombombing, sebuah aksi yang secara tiba-tiba masuk keĀ meetingĀ dan membuat kekacauan, baik mengirimkan gambar, file berbahaya, maupun mengacaukan dengan cara lainnya.
Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC (Communication and Informatian System Security Research Center) ini menekankan bahwa faktor keamanan menjadi pekerjaan rumah besar bagi Zoom.
"Harus diakui kemudahan pemakaian Zoom membuatnya lebih cepat tenan dibandingkan Google Meet maupun CISCO Webex, atau bahkan Microsoft Team," kata pria kelahiran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini.
Aplikasi ini tanpa perlu bayar dan tanpa perlu melakukanĀ loginĀ maupun registrasi, setiap orang sudah bisa melakukanĀ meetingĀ secara daring (online). Namun, kata Pratama, di sini jugalah letak ketidakamannya.
Selain itu, Zoom tidak secara dalam mengaplikasikan keamanan berbasis enkripsi AES-256. Mereka tidak menggunakannya untuk modelĀ teknologi end to end encryptionĀ (E2E), atau hanya menggunakan TLS (transport layer security) yang merupakanĀ updateĀ (memperbarui) teknologi dari SSL fitur enkripsi yang sering digunakan pada website.
"Padahal Zoom adalah aplikasi untuk berkomunikasi, perlindungan dengan model E2E lebih diperlukan," kata dosen etnografi dunia maya pada Program Studi S-2 Antropologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.
Zoom sendiri meski sempat menyangkal, kata Pratama, sang CEO akhirnya mulai mengakui kelemahan mereka di sektor keamanan. Mereka juga terlihat kaget karena tiba-tiba dipakai ratusan juta orang pada masa pandemiĀ Covid-19.
Prinsipnya sekarang bagi pemilik Zoom gantiĀ passwordĀ setiap pekan karena sampai sekarang sistem Zoom masih menjadi bulan-bulanan para peretas, terutama fiturĀ chat-nya yang menjadi pintu masuk para peretas. Hal ini, menurut Pratama, karena prosesĀ developingĀ yang belum sempurna.
Menurut Pratama, ada beberapa hal yang harus dilakukan agar hal semacam ini tidak terjadi lagi. Hal ini mengingat sudah beberapa kali rapat di lingkaran Istana terganggu karena pihak ketiga masuk dan mengganggu rapat.
"Pertama, kita harusĀ developĀ sistemĀ video conferenceĀ yangĀ private. Servernya kita buat sendiri, kita kelola sendiri. Banyak penyedia layanan ini meski memakan biaya agak besar," katanya.
Kedua, jangka panjangnya Indonesia harus mampu membuat pijakanĀ vcon ini secara lokal oleh anak bangsa ini. Bukan hanya pijakanĀ vcon, melainkan juga media sosial (medsos) danĀ chat. Dalam hal ini, Indonesia perlu mandiri.
Ketiga, lanjut Pratama, solusi jangka pendeknya dengan menggunakan pijakan yang belum ada isu celah keamanannya yang cukup krusial, misalnya Google Meeting, Microsoft Team, atau Cisco Webex. (ant)
Advertisement