Update Banjir Jember: 7.249 KK Terdampak, Ada 74 Balita dan 82 Lansia
Banjir yang melanda Kabupaten Jember sejak Kamis hingga Jumat, 12-13 Februari 2026 berdampak pada 9 kecamatan dan 22 desa/kelurahan. Berdasarkan data terkini yang dirilis BPBD Jember, Total sebanyak 7.249 kepala keluarga (KK) terdampak, dengan 74 balita dan 82 lansia masuk dalam kelompok rentan.
Kepala BPBD Jember, Edi Budi Susilo, menegaskan, banjir dipicu hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Jember selama lebih dari 10 jam hingga menyebabkan sejumlah sungai meluap.
“Total terdampak 7.249 KK yang tersebar di sembilan kecamatan. Kelompok rentan terdiri dari 74 balita, 82 lansia, dan 4 penyandang disabilitas. Sebanyak 557 jiwa sempat mengungsi, namun saat ini seluruh pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing,” ujarnya.
Kecamatan Rambipuji menjadi wilayah paling parah dengan 3.774 KK terdampak. Desa Kaliwining mencatat ratusan KK terdampak di sejumlah dusun, termasuk Bedadung Wetan sebanyak 500 KK, Bedadung Kulon sebanyak 400 KK, Curah Suko sebanyak 250 KK, dan Krajan sebanyak 200 KK. Desa Nogosari, Curahmalang, Rambipuji, Rambigundam, Gugut, dan Rowotamtu juga terdampak signifikan.
“Rambipuji menjadi prioritas penanganan karena sebaran dan jumlah terdampaknya paling besar. Kami fokus distribusi logistik dan air bersih di wilayah tersebut,” tegasnya.
Di Desa Rowotamtu, Dusun Paseban tercatat 502 KK terdampak dengan rincian 59 balita, 40 lansia, dan 2 penyandang disabilitas. Lima rumah mengalami rusak ringan.
Sementara di Kecamatan Balung tercatat 1.581 KK terdampak. Desa Gumelar menjadi titik terbesar, khususnya di Dusun Jogaran sebanyak 455 KK dan Krajan Tengah sebanyak 216 KK. Dua rumah rusak ringan serta SDN Gumelar 02 terdampak banjir. Di Balung Lor, 500 KK di Dusun Wetan Kali terdampak, termasuk tiga fasilitas umum yakni TK Darussalam, TPQ Al-Amin, dan masjid.
Sementara di Kecamatan Wuluhan, sebanyak 1.314 KK terdampak, mayoritas di Desa Glundengan dengan 713 KK di Dusun Krajan, 300 KK di Tanjungsari, dan 300 KK di Sumberjo. Balai Desa Glundengan ikut terendam.
“Sebagian besar wilayah saat ini sudah surut total, namun kami tetap melakukan pemantauan dan pembersihan sisa material banjir,” ungkapnya.
Wilayah lain terdampak yakni Kecamatan Bangsalsari tercatat 316 KK, terutama di Desa Sukorejo dan Petung. Kecamatan Kaliwates mencatat 220 KK terdampak, tersebar di Kelurahan Jember Kidul, Tegal Besar, Kepatihan, dan Mangli. Beberapa rumah mengalami rusak ringan dan tembok jebol.
Di Kecamatan Sukorambi, ada 33 KK terdampak, yakni di Desa Jubung, disertai jembatan gantung roboh dan jembatan putus di area perkebunan. Kecamatan Panti mencatat enam KK terdampak serta satu jembatan putus di Desa Suci. Kalisat dan Ajung masing-masing mencatat tiga dan dua KK terdampak.
Banjir ini juga menelan satu korban jiwa, yakni Siti Nurfadila, 55 tahun, warga Dusun Curah Suko, Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, yang meninggal dunia akibat tersengat listrik saat membersihkan rumahnya pasca banjir.
“Korban saat itu sedang membersihkan rumah dan masih terdapat aliran listrik di lokasi terdampak. Ini menjadi perhatian serius agar warga memastikan aliran listrik benar-benar aman sebelum beraktivitas kembali,” jelasnya.
Hingga saat ini, BPBD bersama Basarnas, PMI, Dinsos, TNI/Polri, Tagana, relawan, serta pemerintah kecamatan dan desa melakukan evakuasi, distribusi logistik, serta pendirian posko tanggap darurat di Rambipuji dan Wuluhan.
Sebanyak 20.000 liter air bersih disalurkan ke Desa Nogosari yang sumurnya tercemar. Dapur mandiri didirikan di Glundengan dan Balung Lor, serta bantuan tandon air dikirim ke wilayah terdampak.
“Kami merekomendasikan percepatan distribusi logistik tambahan dan pendirian dapur umum di empat desa di Kecamatan Rambipuji. Penanganan akan terus dilanjutkan hingga seluruh kebutuhan warga terpenuhi,” pungkasnya.
Advertisement