Untren Terbuka, Kolaborasi Besar Mencetak SDM Unggul
Ini kolaborasi besar dan istimewa. Antara Universitas Terbuka (UT) dengan pondok pesantren. Dua institusi pendidikan dengan mahasiswa dan santri terbesar di negeri ini.
Bayangkan, UT punya mahasiswa 600 ribu di seluruh Indonesia. Tersebar di seluruh provinsi di nusantara. Pesantren ada 40 ribu jumlahnya. Di seluruh negeri. Berapa total santrinya?
Kalau dibikin rata-rata 100 santri per pesantren, sudah ada 4 juta santri sendiri. Katakanlah dari jumlah itu sepertiga usia mahasiswanya, maka sudah 1 juta lebih santri berpotensi masuk perguruan tinggi.
Saya yakin jumlah santri di pesantren lebih dari itu. Karenanya, betul kata Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Pratikno. Ini sejarah. Kerjasama strategis untuk bangsa. Sinergi luar biasa untuk membangun SDM unggul
Menteri kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur ini, Sabtu (17 Mei 2025) kemarin, hadir ke Surabaya untuk meresmikan kampus baru UT. Juga menyaksikan penandatanganan kerjasama antara UT dan pesantren. Mendirikan Salut alias Sentra Layanan UT berbasis pesantren.
Momentum sejarah kerjasama UT dengan pesantren ini disaksikan Wagub Jatim Emil Listianto Dardak dan sejumlah bupati di Jatim. Juga dihadiri sejumlah rektor perguruan tinggi negeri. Termasuk Rektor UIN Walisongo Prof Nizar Ali yang hadir sebagai Waketum PBNU.
Saya ikut hadir karena mendampingi menteri yang pernah jadi Dekan Fisipol dan Rektor UGM ini. βBesok saya di Surabaya. Acara di Kampus UT. Balik Jakarta sore,β kata Pratikno melalui pesan Whatsapp malam harinya.
Saya tanggap. Dia ini guru besar kelahiran Jawa Timur yang sangat njawani. Tak pernah berterus-terang. Sebagai orang yang 14 tahun tinggal di Jogja, saya pun paham. βBesok pagi saya jemput di bandara,β jawab saya.
Dari acara ini saya baru tahu bahwa UT ini universitas yang besar sekali. Mahasiswanya ratusan ribu. Ada UT Pusat dan 40 UT Daerah. Termasuk yang ada di luar negeri. Di beberapa daerah ada kampusnya.
ββKetika menjadi rektor UGM, saya selalu menyampaikan bahwa kami adalah perguruan tinggi tertua dan terbesar di Indonesia. Kini tak bisa lagi demikian,ββ kata Menko PMK yang sebelumnya Mensesneg ini.
Rektor UT Dr Mohammad Yunus mengakui nilai strategisnya kerjasama dengan pesantren ini. Memperluas jangkauan akses semua lapisan masyarakat untuk mendapatkan akses pendidikan tinggi maupun pengembangan diri.
Dijelaskan bahwa semua mahasiswa UT bisa mengikuti program studi atau mata kuliah. ββMereka bisa mendalami sesuatu dengan mengikuti kuliah di UT untuk pengembangan diri terkait pekerjaan mereka. Jadi tidak harus mengikuti program studi untuk jenjang kesarjanaan,ββ katanya.
Sebagai perguruan tinggi negeri berbasis pendidikan terbuka dan jarak jauh, UT telah membuktikan diri sebagai solusi efektif untuk menjangkau pendidikan tinggi yang inklusif. Sistem belajarnya fleksibel, biaya murah, dan pemanfaatan teknologi yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Dengan jangkauannya yang luas di Indonesia dan luar negeri, kerjasama dengan pesantren jelas menjadi sangat strategis. Pesantren dengan jutaan santrinya, selama ini, belum sepenuhnya tersambung dengan sistem pendidikan tinggi formal.
Sebagian besar pesantren, terutama yang tradisional, masih menghadapi keterbatasan dalam akses terhadap pendidikan tinggi berkualitas. Terutama akses pendidikan tinggi yang bisa dijalankan tanpa meninggalkan lingkungan pesantren.
Dengan berdirinya Salut berbasis pesantren, persoalan itu bisa teratasi. Tanpa pesantren harus menyediakan lembaga pendidikan tinggi tersendiri. Untungnya lagi, pesantren bisa memasukkan materi lokal dalam mata kuliah di UT ini.
Sinergi bersama pesantren dengan UT ini dapat membuka akses pendidikan tinggi bagi jutaan santri dan ustaz. Seperti yang sudah dimulai di Ponpes Lirboyo Kediri, Penpes Darunnajah Jakarta, dan Ponpes Tebuireng Kediri, bisa dibentuk kelas mitra, penyelenggaraan tutorial tatap muka, serta fasilitasi digital learning.
Sebetulnya ada nilai strategis lainnya dengan kerjasama UT dan pesantren ini. Apa itu? Sinergi ini tak hanya soal akses. Tapi bisa menyentuh soal kualitas. Kombinasi antara penguasaan ilmu modern (seperti teknologi informasi, ekonomi, dan administrasi publik) dengan pendidikan karakter khas pesantren.
Seperti semua orang tahu, pesantren mengajarkan karakter khas seperti kesederhanaan, kemandirian, dan kedalaman spiritual. Dengan sinergi dengan UT ini, diharapkan bisa melahirkan SDM unggul yang tak hanya pintar, tetapi juga berintegritas dan tahan godaan korupsi. Jelas ini sebuah kekuatan langka di tengah krisis etika yang sering menjadi sorotan publik.
Agenda pemerataan pendidikan juga bisa tersentuh melalui sinergi UT-Pesantren ini. Berdasarkan data Indeks Pembangunan Manusia (IPM), masih ada kesenjangan signifikan antarwilayah. IPM Provinsi Papua 2023 hanya 61,39. Ini jauh di bawah DKI Jakarta yang mencapai 81,65.
Dengan sistem UT yang bisa menjangkau pelosok, dan jaringan pesantren yang kuat di daerah, kesenjangan ini bisa dikurangi secara signifikan. Jika kolaborasi ini berjalan lancar, visi Indonesia Emas 2045 yang menempatkan SDM unggul sebagai tulang punggung kemajuan bukan sekadar angan-angan.
Jika dulu pesantren harus bermodal besar untuk bisa menyediakan akses pendidikan tinggi bagi santrinya, kini tak perlu lagi. Bisa menggandeng UT dengan membuka Universitas Pesantren Terbuka atau Untren Terbuka.
Sungguh ini agenda yang praktis dan strategis.
Advertisement