Tradisi Ziarah Kubur Jadi Ladang Rezeki Juru Doa di TPU
Tradisi Ziarah Kubur menjelang datangnya bulan suci Ramadan, di berbagai daerah di Indonesia masih dilakukan dari generasi ke generasi. Kegiatan ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum memasuki 1 Ramadan, dengan mengunjungi makam orang tua, kakek-nenek, kerabat, atau tokoh keluarga.
Momen ini dimanfaatkan penyedia jasa pembersih dan pembaca doa kubur. Dua pekerjaan ini ada yang dikemas dalm satu paket. Setelah makam dibersibhkan lalu memandu membaca doa kubur. Biasanya diawali dengan bacaan surat pendek dari surat Al Fatihah, dilanjutkan dengsn surat Al Ikhlas, Al Falaq diakhiri dengan surat An Nas. Kemudia ditutup dengan doa kubur yang dikutip dari buku yang sudah ia siapkan dari rumah.
Paket ini biasa diperuntukkan bagi yang tidak bisa membaca doa. Upah yang mereka terima, bervariasi, tergantung welas asih orang yang menggunakan jasanya. "Di TPU Karet Bivak tidak ada jurudoa yang memasang tarif, emang angkot," ujar seorang juru doa di TPU Bivak Karet.
Pria bernama Muklis usia 53 tahun penghasilan yang diperoleh dari jasa pembersih makam dan juru doa, selama dua hari bisa mengantongi Rp200 ribu. Lumayan bisa untuk beli beras, katanya polos.
Selain itu ada yang hanya menjual jasa bersikan dan merapokan rumah yang tumbuh liar di atas makam keluarganya. Biasanya dikerjakan secara keroyokan tiga sampai lima orang. Uang yang diperolah dibagi secara merata.
Selain tukang bersih makam dan juru doa, teadisi ziarah makam juga menjadi sumbrt pencari rezeki bagi pedagang bunga. Bunga untuk berziarah ini biasanya brisi berisi mawar, melati dan kenanga.
Tetapi ada yang hanya menjual jasa bersikan dan merapokan rumah yang tumbuh liar di atas makam keluarganya. Biasanya dikerjakan secara keroyokan tiga sampai lima orang. Uang yang diperolah dibagi secara merata.
Momen seperti ini terjadi hampir di seluruh TPU. Di Surabaya misalnya, bisa dilhat di Mkam Rangkah, TPU Tembok dan TPU Keputih.
Ziarah Kubur Tradisi Yang Penuh Maknah
Ketua MUI KH Cholil Nafis menjelaskan bahwa ziarah kubur menjelang Ramadan memiliki makna yang baik,, selama dilakukan sesuai adab dan ketentuan syariat.
Dalam ajaran Islam, ziarah kubur pada dasarnya dianjurkan, meskipun Rasulullah SAW pernah melarang ziarah kubur pada awal dakwah karena kekhawatiran terhadap praktik syirik.
Namun kemudian beliau membolehkannya kembali seraya bersabda bahwa ziarah kubur dapat mengingatkan manusia kepada kematian.
Rasulullah SAW bersabda,
ููููุชู ููููููุชูููู ู ุนููู ุฒูููุงุฑูุฉู ุงููููุจููุฑู ุฃูููุง ููุฒููุฑููููุงุ ููุฅูููููู ููุฑูููู ุงููููููุจูุ ููุชูุฏูู ูุนู ุงููุนูููููุ ููุชูุฐููููุฑู ุงููุขุฎูุฑูุฉูุ ููููุง ุชูููููููุง ููุฌูุฑู
Artinya: Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah). (HR. Hakim).
Menurut KH Cholil Nafis ziarah kubur menjelang Ramadan memiliki makna yang sangat dalam. Ketika seseorang berdiri di hadapan makam orang tuanya atau keluarganya, ia teringat bahwa dulu pernah menjalani Ramadan bersama mereka.
Ada momen refleksi batin yang muncul, โDulu kita berbuka puasa bersama dia, sekarang dia telah meninggal dunia,โ katanya.
Kesadaran ini melahirkan doa dan harapan. Seorang anak yang telah belajar berpuasa dari ayah, ibu, atau kakek-neneknya, akan tergerak untuk mendoakan mereka. Bahkan ia berharap pahala puasa yang ia lakukan dapat sampai kepada orang yang telah mengajarinya beribadah.
Di sinilah letak makna bakti. Ramadan bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang mengingat jasa orang-orang yang telah membimbing mengenal Allah SWT dan menjalankan syariat-Nya.
Dengan berziarah, seseorang menguatkan kembali rasa terima kasih dan bakti. Doa yang dipanjatkan di makam menjadi bentuk penghormatan dan pengingat bahwa hubungan batin tidak terputus oleh kematian.
Advertisement