Tekan Biaya BBM Nelayan, Kapal Listrik Tenaga Surya Diperkenalkan BRIN di Banten
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama United Nations Development Programme (UNDP) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluncurkan inovasi kapal listrik bertenaga surya untuk mendukung nelayan skala kecil. Inovasi tersebut diperkenalkan dalam Clean Energy Electric Boat Innovation Expo yang digelar di Pulau Tunda, Banten, Rabu 14 Januari 2026.
Kegiatan ini menjadi upaya konkret untuk membantu nelayan menekan biaya bahan bakar, mengurangi emisi karbon, serta memperkuat mata pencaharian masyarakat pesisir di tengah tantangan perubahan iklim.
Bagian dari Proyek SeaBLUE
Peluncuran kapal listrik bertenaga surya ini merupakan bagian dari Proyek SeaBLUE yang dijalankan UNDP bersama KKP dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Jepang. Proyek tersebut bertujuan mendorong terwujudnya ekonomi biru yang tangguh dan berkelanjutan di Indonesia, khususnya bagi nelayan kecil.
Berdasarkan data KKP, Indonesia memiliki lebih dari dua juta nelayan skala kecil yang menyumbang sekitar 60 persen produksi perikanan tangkap nasional. Namun, kelompok ini masih sangat rentan terhadap perubahan iklim, fluktuasi harga bahan bakar, hingga kehilangan hasil pasca-panen.
Kondisi tersebut banyak dirasakan di wilayah kepulauan terpencil seperti Morotai dan Kepulauan Tanimbar, di mana kenaikan biaya operasional dan penurunan kualitas hasil tangkapan terus mengancam pendapatan serta ketahanan pangan masyarakat.
Kapal Listrik dan Cooler Box Tenaga Surya
Melalui Proyek SeaBLUE, UNDP memperkenalkan kapal listrik bertenaga surya serta cooler box tenaga surya untuk membantu nelayan kecil menurunkan biaya bahan bakar, menjaga kesegaran hasil tangkapan, dan mengurangi emisi.
Bekerja sama dengan BRIN dan KKP, proyek ini mengombinasikan inovasi teknologi dengan pelatihan praktis dan dukungan teknis. Tujuannya agar kapal listrik yang digunakan aman, mudah dioperasikan, dan berkelanjutan, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kolaborasi dengan BRIN dilakukan melalui pendekatan co-development (co-dev), sehingga teknologi yang dikembangkan tidak hanya inovatif, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan dan kondisi operasional nelayan di daerah terpencil.
Dorong Transportasi Perairan Ramah Lingkungan
Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Aam Muharam, menyatakan bahwa kapal listrik dan ekosistem energinya diharapkan menjadi solusi transportasi perairan yang ramah lingkungan dan terjangkau.
βDiharapkan kapal listrik dan ekosistem energinya dapat menjadi solusi transportasi perairan yang ramah lingkungan, terjangkau, dan berdaya guna bagi masyarakat di daerah 3T, serta menjadi langkah strategis menuju masa depan transportasi berkelanjutan di Indonesia,β ujarnya.
Distribusi untuk Puluhan Desa Pesisir
Proyek SeaBLUE menargetkan distribusi 162 cooler box tenaga surya dan enam mesin kapal listrik untuk 34 desa di Morotai dan Kepulauan Tanimbar. Pelatihan operator serta instalasi stasiun pengisian daya telah diselesaikan, sementara pemasangan akhir mesin kapal listrik dijadwalkan rampung pada akhir Januari.
Selain itu, kunjungan lapangan lanjutan akan dilakukan pada Februari untuk meninjau perkembangan serta menghimpun pembelajaran dari implementasi proyek di lapangan.
Langkah Dekarbonisasi Sektor Perikanan
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa transisi menuju kapal listrik merupakan langkah penting dalam upaya dekarbonisasi sektor perikanan nasional.
βKemitraan kami dengan UNDP memastikan bahwa kapal listrik tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Dengan penyempurnaan desain, pelatihan langsung, dan pemantauan berkelanjutan, kami membangun fondasi untuk implementasi yang lebih luas di wilayah pesisir Indonesia,β katanya.
Perkuat Ketahanan Nelayan Kecil
Sementara itu, Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella, menyebut nelayan skala kecil sebagai jantung komunitas pesisir Indonesia yang kini menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim dan kenaikan biaya operasional.
βDengan menyediakan kapal bertenaga surya serta sistem pendingin, UNDP bersama para mitra menghadirkan solusi praktis untuk menekan biaya bahan bakar, menjaga kualitas hasil tangkapan, dan memastikan pendapatan nelayan tetap stabil,β ujarnya.
Proyek SeaBLUE menjadi cerminan kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Jepang, dan UNDP dalam mendorong ekonomi biru berkelanjutan, memperkuat ketahanan komunitas pesisir, serta mendukung aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Advertisement