Peringatan Dini BMKG: Gelombang 2,5–4 Meter Ancam Perairan Selatan Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Indonesia pada Sabtu 21 Februari 2026 mulai pukul 07.00 WIB.
BMKG memprediksi tinggi gelombang mencapai 2,5 hingga 4 meter di beberapa perairan selatan Indonesia. Kondisi ini dipengaruhi oleh pola angin di wilayah utara yang bergerak dari timur laut hingga tenggara dengan kecepatan 8–30 knot. Sementara di wilayah selatan, angin bertiup dari barat hingga barat laut dengan kecepatan yang sama.
Kecepatan angin tertinggi terpantau di Selat Malaka bagian utara dan Selat Sunda, yang turut berkontribusi terhadap peningkatan tinggi gelombang.
Wilayah Berpotensi Gelombang Tinggi
BMKG mencatat sedikitnya tujuh wilayah yang berpotensi mengalami gelombang tinggi 2,5–4 meter, yaitu:
Samudra Hindia selatan Jawa Barat
Samudra Hindia selatan Jawa Tengah
Samudra Hindia selatan DI Yogyakarta
Samudra Hindia selatan Jawa Timur
Samudra Hindia selatan Bali
Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat (NTB)
Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur (NTT)
Gelombang Sedang hingga Tinggi di Wilayah Lain
Selain itu, gelombang kategori sedang juga berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, seperti Samudra Hindia barat Aceh hingga selatan NTT, Laut Jawa, Laut Natuna Utara, Laut Arafuru, Laut Maluku, hingga Samudra Pasifik utara Maluku dan Papua.
Sementara itu, gelombang tinggi juga berpotensi terjadi di Laut Natuna Utara dan Samudra Hindia selatan Pulau Jawa.
Waspadai Awan Cumulonimbus
BMKG juga mengingatkan adanya potensi awan gelap jenis cumulonimbus di sejumlah wilayah perairan, seperti Selat Makassar, Laut Flores, Laut Sawu, hingga Samudra Pasifik utara Papua. Awan ini dapat memicu angin kencang secara tiba-tiba dan meningkatkan tinggi gelombang laut.
Imbauan untuk Nelayan dan Pelayaran
BMKG mengimbau nelayan, operator kapal, dan masyarakat pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi ini. Kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran serta aktivitas di laut.
Masyarakat juga diminta untuk terus memantau informasi cuaca maritim terbaru guna mengantisipasi perubahan kondisi cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Advertisement