PCNU Sidoarjo Tegaskan Sound Horeg Berlebihan Saat Sahur Sebaiknya Dihentikan
Penggunaan sound horeg dengan volume tinggi untuk membangunkan sahur selama Ramadan dinilai perlu dibatasi. Bahkan sebaiknya dihentikan jika menimbulkan gangguan di lingkungan masyarakat. Tradisi yang awalnya bertujuan baik itu berpotensi berubah menjadi persoalan sosial apabila tidak memperhatikan etika dan kenyamanan bersama.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, KH Zainal Abidin, menegaskan, Islam tidak membenarkan praktik ibadah atau tradisi keagamaan yang dilakukan dengan cara merugikan orang lain.
βMembangunkan sahur memang dianjurkan. Namun jika caranya menggunakan suara yang berlebihan hingga mengganggu masyarakat, maka hal itu tidak dibenarkan,β ujar KH Zainal Abidin, Selasa, 24 Februari 2026.
Ia menjelaskan, dalam kaidah fikih terdapat prinsip la dharara wa la dhirar, yakni larangan melakukan perbuatan yang menimbulkan bahaya atau mudarat. Baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, penggunaan pengeras suara dengan volume ekstrem, seperti sound horeg, bertentangan dengan prinsip tersebut.
βKalau sudah sampai mengganggu bayi, orang sakit, lansia, atau warga lain yang membutuhkan ketenangan, maka sebaiknya dihentikan,β tegasnya.
KH Zainal menilai, semangat Ramadan seharusnya diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan menjaga ketentraman lingkungan, bukan justru menimbulkan keresahan. Apalagi, masyarakat saat ini hidup dalam kondisi sosial yang majemuk.
βRamadan itu bulan penuh rahmat. Jangan sampai niat baik justru menimbulkan ketidaknyamanan dan keresahan sosial,β katanya.
Ia mengimbau masyarakat untuk memilih cara membangunkan sahur yang lebih bijak dan proporsional, seperti menggunakan pengeras suara dengan volume wajar atau cara-cara tradisional yang tidak mengganggu ketertiban umum.
βPilih cara yang diterima umum, tidak berlebihan, dan membawa kemaslahatan bersama. Itulah semangat Ramadan yang seharusnya kita jaga,β pungkasnya.
Penegasan ini diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat agar tradisi sahur tetap berjalan selaras dengan nilai-nilai Islam, etika sosial, serta menjaga ketenangan lingkungan selama bulan suci Ramadan.
Advertisement