Noel (Nggak) Bener; Ironi Aktivis Saat Berkuasa
Benarkah kekuasaan selalu mengubah manusia? Lihatlah Immanuel Ebenezer yang lebih dikenal dengan panggilan Noel Ebenezer. Hanya dalam waktu kurang dari setahun menjadi Wakil Menteri Tenaga Kerja RI, ia sudah terseret dalam kasus korupsi yang terkait dengan jabatannya.
Padahal, sebelumnya ia sering melontarkan sikap keras terhadap praktik korupsi. Bahkan, ia menyampaikan dukungan untuk hukuman mati bagi koruptor. Juga sering turun lapangan sidak perusahaan yang melakukan pelanggaran. Noel adalah salah satu wakil menteri yang populer di Kabinet Merah Putih.
Ia mengingatkan kita kepada Cicero di Romawi Kuno. Seorang orator ulung yang sering menyuarakan perlawananya terhadap perilaku koruptif dan tirani di zamannya. Namun, saat ia diberi kekuasaan sebagai konsul, banyak tindakannya yang tak konsisten demi mempertahankan posisi politiknya.
Juga seperti tokoh revolusi Perancis Maximilien Robespierre. Ia dikenal sebagai tokoh yang tak bisa disuap dan lantang menentang aristokrasi korup. Tapi ketika berkuasa di era Reign of Terror, ia menggunakan kekuasaan dengan cara represif dan dianggap sebagai tokoh tiran.
Transformasi Noel tampaknya lebih cepat lagi. Tak pelak, banyak orang mengernyitkan dahi saat ia ditangkap KPK atas kasus dugaan pemerasan terhadap perusahaan. Terkait pengurusan sertifikat keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Pemerasan berjemaah terhadap perusahaan. Kasus yang kini sedang diusut KPK.
Perjalanan hidup Noel Ebenezer memang bikin tercengang banyak orang. Seperti diungkap di berbagai lini medsos, di tahun 2016 ia masih menjadi driver ojol (ojek online). Tidak sampai 10 tahun bisa menjadi orang kedua di kementerian. Dengan berbagai kewenangan dan privillege sosial-politik.
Betul-betul hidupnya seperti roller coaster: menjulang tinggi dan terjun dengan cepat. Tentu banyak orang yang mempunyai nasib seperti Noel Ebenezer. Tapi tak mendapat perhatian publik karena mereka bukan pejabat negara. Sedangkan Noel adalah pejabat yang vokal.
Kenapa bisa demikian? Bisa jadi karena ia tak tahan dengan godaan dalam kekuasaan. Ia larut dengan praktik penyimpangan di birokrasi kementeriannya. Bahkan ia mau menerima setoran Rp 3 Miliar dan motor Ducati dari anak buahnya yang telah mengeruk untung Rp 69 Milar dari pemerasan berjemaah sejak 2019.
Pasti Noel nggak menyangka praktik itu sudah diendus KPK sejak lama. Sehingga ia ikut diciduk lembaga anti rusuah itu setelah KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap sejumlah pejabat Kemenaker RI. Kini ia sudah ditetapkan menjadi tersangka dan dipecat dari jabatannya sebagai wakil menteri. Tragis.
Kekuasaan memang ibarat dua sisi mata uang bagi mereka yang menggendongnya. Di satu sisi, kekuasaan memberi ruang pemiliknya untuk mewujudkan visi hidup dan membuat perubahan yang bermanfaat bagi banyak orang. Di sisi lain, ia bisa menyeret kita terjerumus kepada penyalahgunaan, dominasi dan korupsi.
Saya pernah dalam posisi yang penuh godaan itu. Saat menjadi orang kedua di pemerintahan Kota Surabaya. Melalui pemilihan kepala daerah langsung yang pertama. Seperti Noel, saya juga menggapai itu seperti lompatan. Baru 10 tahun tinggal di kota ini bisa mencapai posisi seperti tersebut. Di kota terbesar kedua di Indonesia.
Padahal saya bukan politisi. Hanya seorang wartawan di sebuah media yang saat itu terbesar kedua di Indonesia. Media yang punya kepentingan terhadap desentralisasi pemerintahan. Bersama Pak Dahlan Iskan, saya pun mendirikan Jawa Pos Institute of Pro Otonomi (JPIP). Tiap tahun memonitor pelaksanaan otonomi daerah.
Begitu ada peluang masuk gelanggang politik kekuasaan, saya pun memasukinya. Ingin ambil bagian dalam sejarah pemilihan kepala daerah langsung yang pertama. Juga menerapkan berbagai hasil riset dan monitoring otonomi daerah. Yang pasti, ada alasan moral yang kuat untuk memasuki dunia kekuasaan.
Setelah di dalam, adakah godaan atau peluang menyimpang seperti yang dialami Noel? Banyak. Mulai yang langsung maupun tidak langsung. Tak terhitung yang mengajak mendirikan perusahaan bersama. Tak terkira orang yang menawarkan sesuatu yang bisa membuat kita terlena.
Ada cara saya menjaga diri untuk tak terseret dalam arus moral hazart birokrasi saat itu. Misalnya, saya tak mau menerima uang yang tidak ada potongan pajak di dalamnya. Potongan pajak adalah salah satu indikator bahwa uang yang kita terima adalah legal alias sah.
Tentu dengan cara itu membuat kita tidak segera punya Ducati. Juga tidak punya uang banyak yang bisa disimpan di deposito untuk bekal masa tua. Tapi meski tak punya simpanan masa tua, setidaknya bisa membuat tenteram hidup berikutnya. Tak terpikir berurusan dengan aparat hukum. Apalagi bernasib tragis seperti Noel.
Dari Noel kita belajar bahwa berteriak melawan korupsi lebih mudah ketimbang menjaga diri kita dari korupsi. Apalagi ketika kekuasaan ada di tangan. Setiap saat sejarah bisa berulang. Bahwa di zaman apapun, idealisme selalu diuji, integritas dipertaruhkan, dan hanya sedikit yang lolos dari godaan kekuasaan.
Lantas apakah kita harus menghindar dari kekuasaan? Tentu tidak demikian. Ada sebagian dari kita harus memegang amanah untuk itu. Namun, ketika kekuasaan di tangan tampaknya harus disertai kesadaran bahwa hidup ini adalah pilihan. Menjadikan kekuasaan untuk kebaikan atau untuk kepentingan diri sendiri.
Alam rupanya selalu memberi cermin kepada kita semua. Kapan pun dan dimanapun juga. Tinggal kita mau bercermin atau tidak.
Advertisement