Mitigasi Dampak El Nino, Pemkab Banyuwangi Siapkan Sumur Air, dan Dorong Petani Ubah Pola Tanam
Fenomena alam El Nino Godzilla diprediksi terjadi mulai bulan April 2026 ini. Fenomena ini berpotensi menimbulkan terjadinya kemarau panjang dan ekstrem. Merespon hal ini, Pemkab Banyuwangi telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif. Mulai dari pemetaan sumber air, penyediaan sumur air, bantuan benih, hingga mendorong perubahan pola tanam petani.
Kepala Dinas Pertanian dan pangan Kabupaten Banyuwangi, Danang Hartanto, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan langkah jangka pendek untuk membantu petani menghadapi potensi kekeringan.
Salah satunya dengan menyalurkan bantuan benih jagung agar petani bisa tetap berproduksi tanpa terbebani biaya awal yang tinggi. Petani juga mulai diarahkan untuk tidak hanya bergantung pada komoditas padi.
βTidak harus padi terus. Kalau kondisi air tidak memungkinkan, petani harus mulai beralih ke tanaman yang lebih tahan kekeringan seperti jagung,β jelasnya, Jumat, 10 April 2026.
Dia menyebut, langkah ini bagian dari strategi perubahan pola tanam, terutama pada lahan baku sawah seluas sekitar 665 hektare yang diproyeksikan dapat dimanfaatkan untuk tanaman alternatif.
Langkah mitigasi juga terus diperkuat dengan menyiapkan infrastruktur air. Sedikitnya 100 sumur pertanian disiapkan sebagai cadangan jika kekeringan benar-benar terjadi dan berlangsung lama.
Tak hanya itu, pemetaan sumber air terus dilakukan secara intensif bersama instansi terkait termasuk Dinas PU Pengairan. Dinas Pertanian dan Pangan, menurutnya, saat ini sedang menghitung debit air dan kemampuan suplai untuk memastikan distribusi air tetap mencukupi kebutuhan lahan pertanian.
"Kita petakan berapa debit air yang tersedia, sehingga kita tahu berapa luas lahan yang masih bisa terairi. Ini penting agar tidak terjadi rebutan air di tingkat petani,β tegasnya.
Ketersediaan pupuk subsidi juga menjadi perhatian serius. Pemkab Banyuwangi memastikan distribusi pupuk subsidi tepat sasaran agar produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah ancaman cuaca ekstrem.
Dia menegaskan, hingga kini belum ada laporan kekeringan signifikan di Banyuwangi. Langkah mitigasi harus dilakukan sejak dini dan memperkuat koordinasi lintas sektor. Mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan lainnya.
Danang mengingatkan para petani agar lebih bijak dalam menentukan jenis tanaman dan menyesuaikan dengan kondisi ketersediaan air. Jika salah perhitungan, petani bisa menderita kerugian.
βKuncinya ada pada air. Kalau air terbatas, pola tanam harus disesuaikan. Jangan sampai dipaksakan, karena justru bisa merugikan petani sendiri,β ujarnya.
Advertisement