Menkeu Purbaya Klaim Pemerintah akan Kembalikan Nilai Tukar Rupiah Rp15.000 per Dolar AS
Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan, pemerintah berkomitmen mengembalikan keperkasaan nilai tukar rupiah ke level psikologis Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Untuk merealisasikan target tersebut, Purbaya membocorkan adanya aksi nyata (action) yang siap dieksekusi oleh kementerian keuangan pada pekan depan.
Purbaya menjelaskan, bahwa fokus utama dari strategi yang akan dijalankan ini adalah mengunci devisa hasil perdagangan internasional agar tetap terparkir di dalam negeri.
Dengan membendung pelarian modal, pasokan valas domestik diyakini akan kembali melimpah.
"Minggu depan akan ada action dari saya untuk memperkuat nilai tukar. Nanti kalau itu mulai berjalan, hasil devisanya nggak lari kemana-mana dari ekspor batu bara, ekspor CPO juga akan tinggal di sini. DHE juga," ujar Purbaya kepada wartawan dikutip Sabtu 23 Mei 2026.
Kewajiban Penempatan Devisa 100% ke Bank Nasional Menkeu menambahkan, fondasi penguatan mata uang Garuda akan semakin solid seiring dengan bergulirnya regulasi pengetatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang baru pada bulan depan.
Melalui sinergi kebijakan retensi devisa komoditas unggulan seperti sawit dan batu bara, struktur moneter nasional diproyeksikan bakal menguat secara menyeluruh.
"DHE hasil ekspor mulai dijalankan lagi yang baru kan Juni, itu akan memperkuat semuanya. Itu mungkin," jelas Purbaya.
Ketika didesak mengenai bauran strategi lanjutan di luar pengetatan devisa, Purbaya berseloroh bahwa kombinasi kerja keras dan aspek spiritual tetap melandasi setiap langkah pemerintah.
Namun secara teknis fiskal, ia menekankan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah menjaga iklim investasi di pasar surat utang (bond).
Purbaya memaparkan, indikator kesehatan pasar obligasi negara saat ini menunjukkan rapor yang impresif. Hal itu terlihat dari tren penurunan tingkat imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang menandakan harga obligasi Indonesia kian mahal dan stabil.
Kondisi ini terbukti ampuh memikat para pemodal internasional untuk terus menanamkan modalnya di Indonesia meskipun pasar global dibayangi sentimen negatif.
"Ya, kita pakai doa yang kedua. Udah, apa lagi? Kita udah masuk ke bond kan. Bond-nya kan turun kan? Yield-nya kan turun, kan walaupun ada apa-apa. Asing masih banyak masuk juga bareng kita," kata Purbaya.
Stabilitas pada pasar surat utang inilah yang akan terus dikawal ketat oleh Kementerian Keuangan untuk menjamin keberlanjutan arus modal asing (capital inflow) sebagai penyokong utama otot Rupiah.
"Jadi, ketika stabilitas harga obligasi terlihat, asing nggak akan ragu untuk masuk. Jadi, itu akan terus kita jaga ke depannya," pungkas Purbaya.
Sementara kurs beli Dolar AS (USD) terhadap Rupiah hari ini masih berada di kisaran Rp17.290 hingga Rp17.690,
Advertisement