Kuliner Nusantara di Kawasan Istiqlal, Ada Rica-rica Gudeg atau Pecel Madiun
Kawasan pelataran luar Masjid Istiqlal Jakarta Pusat, kini menjadi galeri kuliner nusantara dengan memberdayakan usaha mikro kecil dan menen (UMKM). Pengunjung Masjid Istiqlal kalau akan makan atau ngopi tidak perlu jauh jauh. Tinggal menentukan menu pilihannya..
Di sini tersedia aneka macam menu unggulan dari beberapa daerah. Antara lain, Nasi Padang, Masakan Sunda, Soto Betawi, Nasi Uduk, Gado Gado, Ketupat Sayur, Gudeg Yogya, Nasi Pecel Madiun, Soto Madura, Soto Lamongan, Ayam Bakar Surabya, Sate Ayam, Rica-rica dan masih banyak lagi, pengunjung tinggal memilih menu kesukaan.
Pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu merupakan hari yang ditunggu tunggu oleh para pedagang. Pada hari itu pengunjung "IGF Food & Craft Masjid Istiqlal" ini cukup ramai.
"Biasanya habis jumatan jamaah banyak yang langsung makan siang. Demikin pula pada hari Minggu, setelah kebaktian di Gereja Kataderal di seberang masjid jemaatnya banyak yang makan di sini," kata salah seorang pedagang bernama Hana.
Ia menyampaikan sejak terowongan silaturahim yang menghubungan pelataran parkir Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral dibuka, memberikan manfaat bagi para pedagang. Dengan adanya terowongan tersebut pengunjung semakin ramai.
UMKM yang memiliki stand di sini masing masing menyajikan menu unggulan yang berbeda dengan stand lain. Setiap stand berusaha memberikan pelayanan terbaik pada setiap pengunjung. Harga setiap menu harus dicantumkan dengan jelas untuk mencegah "nggepuk" pembeli dengan harga yang tidak lazim.
"Di sini bersaing soal pelayanan dan kualitas masakan diperbolehkan, yang dilarang menjatuhkan pedagang lain dan memasang harga makanan terlalu tinggi," kata Hana.
Ia menyebut harga makanan dan minuman di kawasan Istiqlal antara Rp10 ribu hingga Rp25 ribu.Perempuan Asal Garut Jawa Barat ini menyajikan menu khas Sunda lengkap dengan lalapan. Salah satu satu menu unggulannya adalah bakakak hayam. Yaitu ayam bakar utuh yang dibumbui pedas gurih. Daging yang lembut dan juicy membuat banyak orang ketagihan. Biasanya bakakak hayam disajikan bersama sambal ceurik.
Bagi pengunjng yang suka masakan pedas, juga tersedia menu spesial ayam rica rica. "Rica-rica memang salah satu kuliner khas Manado, tapi tidak perlu khawatir, saya jamin 100 persen halal," tutur pengelolanya Hj Ratih. Ia memilih Rica-rica karena menu favoritnya sejak kuliah dan banyak berteman dengan orang Manado.
"Alhamdulillah banyak pengunjung yang datang makan siang dengan ayam rica rica. Nggak mahal kok cuma Rp25 ribu per porsi, sudah komplit dengan nasi." kata Ratih.
Penyaji Gudeg Yogya, Dewi, menuturkan UMKM di kawasan kuliner Istiqlal jumlahnya puluhan dan secara alami terjadi kompetisi. Pedagang yang asal asalan akan ditinggalkan pembeli. "Sudah ada beberapa stand yang tutup hanya ikut ikutan tidak punya inovasi," katanya.
Ia berjualan masakan khas Yogya sejak ada penataan ulang dua bulan lalu. Meskipun tiap hari ada pengunjung, tapi tidak seramai Jumat, Sabtu dan Minggu serta kalau ada kunjungan dari daerah.
"Dulu pengunjung kesulitan mencari makan, bahkan kalau pedagang tahu pengunjung dari daerah, langsung dimahalkan. *Sekarang pedagang sudah ditata dan diikat dengan peraturan. Tidak ada ruang bagi pedagang yang suka merugikan pembeli," ujarnya.
Dewi menjamin Godeg nya asli Yogya katanya bukan hanya labelnya. "Komplit di krecek, telur, opor ayam, tempe dan tahu bacem,” tegasnya.
Orang gereja kalau beli kebanyakan dibawa pulang. Pelanggan biasanya telepon dulu, pesanan akan diambil sesudah mengikuti misa Munggu," katanya sambil memarkan menunya.
“Kalau Minggu pengunjung yang datang sebagian besar bersal dari jemaat Katedral dan Gereja GPIB Imanuel Gambir, serta peziarah dari daerah,” kata perempuan asal Wates Yogyakarta tadi.
Beberapa pengunjung yang ditemui Ngopibareng.id mengatakan pilihan menunya cukup banyak, enak enak dan harganya pun standar. "Setiap jumatan di Istiqlal saat bersama keluarga makan siang disini dengan menu yang berbeda beda. Sekarang saya mampir di stand Pecel Madiun," ujar Janesh.
Kepala Bidang Sosial dan Pemberdayaan Umat Masjid Raya Istiqlal Abu Huraerah Abdul Salam, mengatakan konsep yang dikembangkan oleh pengelola Masjid Istiqlal, selain berfungsi sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan pemberdayaan ekonomi umat atau UMKM.
"Pedagang yang kami tampung di sini adalah pedagang di depan yang menggunakan gerobak dorong, awut awutan sulit ditertibkan. Setelah kami sediakan tempat mereka bisa berdagang dengan tenang, tidak dikejar jejar Satpol PP karena mengganggu ketertiban umum,” papar Abu Huraerah Abdul Salam.
"Sekarang lingkungan Masjid Negara sudah tertata rapi, dan tertib, tidak ada pedagang yang berkeliaran dan buka lapak di pelataran masjid, parkir untuk kendaraan roda dua roda empat juga tersedia cukup luas dan aman di basemen, bawah lokasi kuliner nusantara," kata Abu Huraerah, Minggu 19 Ianuari 2025.
Advertisement