Kereta Api Primadona Mudik, Ini Jejak Transformasi Jonan
Lebaran kali ini makin membuka mata saya tentang kehebatan hasil transformasi di PT Kereta Api Indonesia (KAI). Inilah transformasi yang hasilnya bisa dinikmati sebagian besar bangsa Indonesia.
Bayangkan. Lima belas tahun lalu, kabar tragis masih sering menimpa alat transportasi publik itu. Tak jarang kita mendengar tragedi tabrakan. Atau uyel-uyelan dan saling berebut saat mudik lebaran.
Tak jarang, kereta api selalu menjadi obyek liputan utama setiap lebaran tiba. Sebab, dari alat transportasi itu banyak kisah drama para penumpang untuk bisa pulang kampung dengan moda transportasi murah itu.
Kini, situasi itu telah berubah 180 derajat. Kereta api menjadi pilihan mudik yang paling asyik. Juga paling tepat waktu dan nyaman. Pesawat masih sering terjadi penundaan terbang alias delay. Harga tiket pun masih tergolong mahal.
Dalam dua minggu terakhir jelang lebaran, saya sungguh menikmati hasil transformasi KAI. Dalam perjalanan pulang-balik Jogja-Surabaya dan Jogja-Purwokerto. Perjalanan untuk sebuah urusan yang selesai dalam sehari.
Berangkat pagi dari Jogja dengan KA Sancaka. Sampai di Surabaya siang langsung ke tempat kerja. Sorenya sudah bisa balik lagi ke Jogja dengan kereta. Perjalanan 300 kilometer itu hanya butuh tempuh 3 jam.
Demikian juga saat saya harus mengantar istri ziarah ke makam orang tuanya di Purwokerto. Perjalanan ke kota tempe mendoan itu hanya perlu tempuh 2 jam. Bandingkan dengan naik mobil yang memerlukan waktu tempuh 4 jam jika tidak macet.
Ya. Sebelumnya saya menawarkan antar istri dengan mobil. Biar di Purwokerto gampang wira-wiri. Sambil merasakan kembali perjalanan mudik yang dulu hampir setiap tahun kami lakukan. Lalu berhenti setelah kedua orang tua meninggal dunia.
Tapi, istri ngotot menggunakan kereta. Hanya butuh waktu tempuh separo dari perjalanan menggunakan mobil pribadi. Apalagi biayanya juga jauh lebih murah dengan membeli tiket dua jam sebelum perjalanan. Tiket KA eksekutif hanya sepertiga dari harga dengan pembelian normal.
Ternyata, yang berubah dati KAI tidak hanya layanan. Sarana-prasarana juga semakin baik. Hanya dalam beberapa tahun tidak ke Purwokerto, stasiunnya semakin ciamik. Pintu masuknya dari atas. Seperti jalur kedatangan di bandara. Untuk ke peronnya, menggunakan eskalator. Juga lift untuk prioritas.
Gerbang masuknya menggunakan desain interior modern. Yang disesuaikan dengan nuansa heritage stasiun yang menjadi titik transit jalur Jakarta-Jogjakarta itu. Ruang tunggunya menggunakan pendingin udara. Baik di lantai atas dan bawah. Peronnya tampak bersih dan megah.
Stasiun Purwokerto ini tak kalah dengan stasiun sentral di Berlin, Jerman. Saat saya hendak pulang ke Jogja, tampak rangkaian kereta kargo yang sedang transit. Panjang sekali. Ini menunjukkan bahwa KAI tak hanya jadi andalan transportasi penumpang. Tapi juga jadi andalan pengiriman logistik.
Sungguh malam itu seperti berada stasiun KA di Eropa.
ββSejarah kereta api Indonesia dapat dibagi dalam dua zaman, pra-Jonan dan pasca-Jonan,ββ kata Anton Alifandi, wartawan senior yang sampai sekarang tinggal di London, Inggris.
Jonan yang dimaksud adalah Ignatius Jonan. Pria kelahiran Surabaya ini yang melakukan transformasi KAI sehingga sangat maju hingga sekarang. Ia melakukan hal itu saat menjabat sebagai Dirut PT KAI tahun 2009 hingga 2014. Sebelum ia menjadi Menteri Perhubungan dalam Kabinet Presiden Jokowi periode pertama.
Sebelum itu, PT KAI bisa dianggap sebagai masa kegelapan. Kinerja keuangannya selalu rugi tiap tahun. Hanya dalam waktu 5 tahun, ia berhasil mengubah wajah KAI menjadi moda transportasi yang sangat mengasyikkan. Jonan adalah peletak dasar transformasi yang menjadikan kereta api Indonesia seperti sekarang.
Apa saja yang berhasil diubah Jonan dalam waktu sesingkat itu? Pertama, peningkatan layanan penumpang. Ia berhasil menghapus calo tiket dengan menerapkan sistem pelayanan online dan tiket elektronik. Menerapkan boarding pass seperti di bandara. Melarang penumpang berdiri dan membasmi penumpang liar di atas kereta.
Kedua, memperbaiki manajemen dan SDM. Di eranya, ia telah berhasil mengubah budaya kerja di internal PT KAI dengan meningkatkan disiplin pegawai. Ia juga berhasil meningkatkan kesejahteraan pegawai dengan gaji dan fasilitas yang lebih baik. Juga berhasil menghapus pungli dan korupsi di perusahaan.
Yang paling penting, ada mengubah budaya orientasi kepada customer. Semua pegawai KAI dari paling atas sampai bawah nyaris bisa seragam dalam memperlakukan penumpang. Di beberapa stasiun besar, semua staf berdiri berjajar menghormat ke penumpang saat kereta berangkat. Seperti di Jepang.
Ketiga, memodernisasi infrastruktur dan armada. Ia renovasi stasiun besar agar lebih bersih dan nyaman. Meningkatkan kualitas gerbong. Hampir semua kereta antar kota kini menggunakan gerbong baru. Semuanya berpendingin udara. Baik kelas ekonomi maupun eksekutif. Ada gerbong prioritas dan panoramic. Juga first class seperti pesawat.
Jalur utama di Jawa tak lagi satu jalur. Ada dua rel sepanjang trans Jawa. Baik di jalur utara maupun jalur selatan di pulau dengan penduduk terbesar di Indonesia ini. Rel ganda ini yang membuat jadwal kedatangan dan keberangkatan KAI selalu tepat waktu. Dengan jarak antar kereta yang hanya selisih hitungan menit. Ini membuat ketepatannya mengalahkan pesawat kita.
Keempat, meski sempat mendapat perlawanan keras, ia berhasil menghilangkan pedagang asongan dan pengamen di gerbong maupun stasiun. Semuanya telah menjadi bagian dari sistem perkeretaapian. Termasuk jasa porter atau pembawa barang. Jasa ini yang tak ada di luar negeri. Sungguh penumpang kereta di Indonesia teras lebih dimanjakan.
Yang pasti, kini setiap pengguna jasa KAI bisa merasakan jejak tangan Jonan. Saya pun menjadi lebih suka menggunakan kereta untuk jarak tempuh perjalanan di bawah 5 jam. Karena lebih praktis dan pasti. Apalagi hampir semua stasiun KA ada di tengah kota. Berbeda dengan pesawat yang rata-rata sangat jauh dari pusat kota.
Perubahan yang dilakukan Jonan sebetulnya banyak menginspirasi BUMN lainnya. Seperti di industri gula yang dilakukan Dirut PTPN III Holding Mohamad Abdul Ghani. Ia juga telah berhasil mengubah perusahaan plat merah tinggalan Belanda itu dari rugi setiap tahun menjadi menguntungkan. Bahkan, menjadi lokomotif untuk percepatan swasembada gula.
Tapi, barangkali Ghani tak akan seterkenal Jonan meski memiliki pencapaian yang sama. Sebab, Jonan menangani sektor kebutuhan mayoritas publik secara langsung, sedangkan Ghani menangani sektor pangan. Sebelumnya, ada seorang bernama Tanri Abeng yang berhasil mentransformasi Telkom menjadi BUMN papan atas seperti sekarang.
Poinnya, ternyata kita bisa melakukan perubahan besar terhadap perusahaan negara warisan lama. Kuncinya ada pada kepemimpinan. Juga komitmen pemerintah untuk selalu mengedepankan rakyat. Bukan kepentingan golongan apalagi hanya orang per orang.
Akankah ada sosok pengubah lainnya di negeri ini ke depan? Kita tunggu saja.
Advertisement