Jamiyah Islamiyah (JI ) Nyatakan Kembali Ke Pangkuan NKRI, Tinggalkan Mimpi Mendirikan Negara Islam
Petinggi atau amir Jamaah Islamiyah (JI) menentukan sikap kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Komitmen itu disampaikan saat bertemu dengan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Romo Syafi'i pada Jumat, 25 Juli 2025, malam. Mereka bahkan menegaskan ingin berkontribusi lebih besar untuk bumi pertiwi.
Di antara rombongan mantan JI itu adalah Mbah Zarkasih, mantan Amir JI periode 2004-2007. Kemudian juga ada Para Wijayanto, mantan Amir JI periode 2008-2019. Dalam pertemuan tersebut mereka menegaskan JI sudah bubar. Seluruh anggotanya sudah teken perjanjian setia kepada NKRI.
Zarkasih mengatakan, mereka bersyukur bisa diterima dengan baik oleh Kemenag. Dia mengaku banyak poin pencerahan yang didapatkan selama diskusi. Sehingga mereka semakin yakin dengan bergabungnya kembali pada NKRI.
Kembali ke NKRI JI Otomatis Bubar
"Kita (mantan JI) akan semakin mantap (kembali bergabung NKRI)," katanya.
Zarkasih menuturkan, komitmen kembali ke pangkuan NKRI merupakan satu langkah yang menjadi tanggung jawab mereka dalam 6 poin pembubaran JI.
"Kami mendapat pencerahan terhadap pilar-pilar NKRI dari yang Romo (Wamenag) sampaikan,” ungkapnya.
Sementara itu, Para Wijayanto mengatakan, mereka menjadi lebih optimis dengan proses penerimaan dalam integrasi kembali kepada NKRI.
"Ini sangat berguna untuk kami. Sehingga kedepannya harapan kami bisa membuat jalan lebih luas, lebih lebar bagi kami untuk bisa berkontribusi untuk NKRI," jelasnya.
Anggota JI Berkomitmen Ingin Menjadi Masyarakat Biasa
Terkait kontribusi untuk Indonesia, wujudnya beragam. Mereka ingin menjadi masyarakat seperti umumnya. Termasuk ada yang bertani, berdagang, dan lain sejenisnya. Mereka sudah melupakan amalan atau ideologi yang dahulu sempat mereka perjuangkan. Yaitu membentuk negara Islam atau sebutan lainnya.
Cinta NKRI Harus Dengan Bukti Tak Perlu Umbar Pernyataan
Dalam kesempatan itu Wamenag Romo menyampaikan pemerintah mengajak semua warga negara Indonesia untuk mencintai Indonesia. Termasuk para mantan JI beserta pentolannya. Bagi Romo, bukti cinta kepada NKRI tidak perlu diumbar lewat pernyataan. Tetapi ditunjukkan melalui aktivitas nyata di tengah masyarakat.
“Tidak perlu apa namanya mengumbar statement tentang kita sudah bubar, kita sudah tidak ini," tandasnya.
Romo berpesan mereka sebaiknya langsung menunjukkan bukti dengan aktivitas sehari-hari yang positif. Romo berpesan kepada para anggota JI supaya menjalani kehidupan sehari-hari secara alamiah atau natural.
Romo juga menegaskan keyakinan terhadap kebenaran agama yang dianut tidak boleh berkurang. Tetapi pelaksanaan ekspresi keagamaan perlu disesuaikan dengan kesepakatan bersama. Kesepakatan bersama itu dalam kerangka NKRI.
Dia mengisahkan sosok Bung Hatta sebagai contoh bagaimana nilai-nilai Islam dapat diperjuangkan melalui jalan kebangsaan. Cerita itu diangkat dari pengalaman Imanuddin Abdulrahim, tokoh muda Masjid Salman ITB, yang pernah mempertanyakan sikap Bung Hatta.
Imanuddin sempat protes karena Bung Hatta tidak pernah menyebut kata Islam dalam ceramahnya. Padahal Bung Hatta sering bicara soal keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan. Bung Hatta, lalu menjelaskan bahwa dirinya memilih memperjuangkan Islam melalui substansi nilai, bukan simbol.
Dicap Organisasi Teroris
Untuk diketahui JI adalah organisasi militan Islam di Indonesia yang berupaya mendirikan sebuah negara Islam raksasa di wilayah Asia Tenggara. Meliputi negara-negara tetangga mulai dari Brunei, Filipina, Malaysia, Singapura, hingga Thailand. Pemerintah Amerika Serikat melabeli organisasi ini sebagai organisasi teroris. Sementara pemerintah Indonesia memberi stempel sebagai organisasi atau korporasi terlarang.
JI beroperasi dalam kurun 1993-2024. Tokoh utamanya adalah Abu Bakar Ba'asyir. Bom Bali 2002 dan 2005 dikaitkan dengan JI. Termasuk juga bom hotel JW Marriott di Jakarta pada 2003 lalu. Kemudian juga kasus bom di Kedutaan Australia di Rasuna Said Kuningan Jakarta pada 2009 silam.
Advertisement