Jelang Imlek di Vihara Dharma Bhakti Petak Sembilan Glodok, Dewi Kwan Im Paling Dicari Peziarah
Beberapa Vihara di Jakarta mulai melakukan persiapan menyambut tahun baru Imlek 2577 Kongzili, bertepatan dengan 17 Februari 2026.
Salah satunya adalah Vihara Dharma Bhakti, atau dikenal sebagai Klenteng Kim Tek Ie. Ini adalah vihara tertua dan paling terkenal di kawasan Jabodetabek
Ketua Yayasan Vihara Dhrma Bakti, Tan Adhi Nata, mengatakan, sebagai tuan rumah, ia telah melakukan terbaik untuk menyabut tamu dan peziarah .
"Target kami, H-7 persiapan Imlek di Vihara Dharma Bhakti harus sudah selesai ," ujar Tan.
Patung Dewi Kwan Im yang dikeramatkan dan paling banyak dicari pengunjung tertata rapi di altar lengkap dengan sesaji berupa buah jeruk, anggur dan apel , terlihat masih segar.
Lilin jumbo sumbangan umat , sebagian sudah dinyalakan oleh pemiliknya. Lampion juga sudah memenuhi ruangan hinggs pintu masuk Vihara
Vihara yang berlokasi di Jl. Kemenangan III No. 13, Petak Sembilan, Glodok, Kec. Taman Sari, Jakarta Barat, dibangun oleh Letnan Tionghoa Kwee Hoen, tahun 1650.
Vihara ini menjadi pusat ibadah utama umat Buddha dan Konghucu. Khususnya saat Imlek, serta populer sebagai destinasi wisata sejarah dengan arsitektur khas Tionghoa.
Vihara ini sempat terbakar pada 1740 dan dipugar kembali, menjadikannya saksi sejarah panjang Pecinan di Jakarta. Pada 2 Maret 2015 Vihara Dharma Bhakti di kawasan padatpenduduk kembali terbakar mengakibatkan kerusakan hebat.
Dewi Kwan Yang Welas Asih
Pusat sembahyang dengan 27 patung dewa, yang paling utama adalah altar Dewi Kwan Im.
Dewi Kwan Im (Guan Yin/Kwan She Im Phosat) adalah Bodhisatwa yang diyakini bersifat welas asih dan pengampun dalam agama Buddha Mahayana.
Di kalangan masyarakat Tionghoa fiyakini sebagai sosok wanita penyayang penolong kesusahan. Ia berikrar tidak akan mencapai nirwana sebelum semua makhluk terbebaskan dari penderitaan. Sering disembah untuk memohon kesehatan dan keberkahan.
Di Tiongkok. Kwan Im berarti "mengamati suara-suara (jeritan penderitaan) di dunia".
Sosok Welas Asih: Sering digambarkan mengenakan pakaian putih melambangkan kesucian, membawa teratai atau botol air suci. Ia adalah simbol cinta kasih tanpa batas, sering membantu umat yang berdoa.
Vihara ini tetap menjadi cagar budaya dan tempat ibadah yang menampung 5000 pengunjung pada momen puncak perayaan Imlek
Makna Menyalakan Lilin
Dalam tradisi menyambut tahun baru Imlek, lilin menjadi salah satu elemen yang tak terpisahkan, terutama saat upacara keagamaan dan ritual keluarga.
Lilin Imlek biasanya berukuran besar, berwarna merah, dan dihiasi dengan tulisan atau simbol keberuntungan dalam bahasa Tionghoa. Warna merah pada lilin melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan perlindungan dari energi negatif.
Lilin jumbo berukuran 1 - 2 meter sering ditemukan di klenteng atau vihara selama perayaan Imlek.
Lilin-lilin besar ini dinyalakan oleh umat sebagai doa agar diberikan keberuntungan, kesehatan, dan rezeki. Semakin besar lilin yang digunakan, semakin besar pula harapan yang dipanjatkan kepada dewa-dewa.
Menurut Prof. Dr. Taufik Abdullah, menulis,simbolisme dalam budaya Tionghoa, termasuk penggunaan lilin dalam perayaan Imlek, memiliki kedalaman makna yang terkait dengan konsep keseimbangan antara dunia material dan spiritual.
"Lilin yang menyala berhari hari menjelang Imlek bukan hanya sebagai penerangan, tetapi juga sebagai simbol dari harapan dan doa yang menghubungkan umat dengan kekuatan spiritual yang lebih tinggi," ungkap Prof Taufik.
Pendapat ini mencerminkan pentingnya ritual dan simbol dalam budaya Tionghoa, yang tidak hanya berfungsi sebagai tradisi tetapi juga memiliki tujuan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan harmonis.
Secara keseluruhan, lilin dalam perayaan Imlek bukan hanya menjadi elemen dekorasi, tetapi juga simbol penting yang sarat makna.
Nyala lilin mengingatkan akan pentingnya harapan, doa, dan hubungan harmonis dengan leluhur serta dunia spiritual. Dengan memahami maknanya, kita dapat menghargai lebih dalam keindahan tradisi Imlek dan pesan yang ingin disampaikan melalui cahaya lilin tersebut.
tergantung ukuran, bahan, dan durasi nyala. Untuk keperluan rumah tangga, harga lilin jelly/naga kecil mulai Rp37.500 - Rp200.000-an per pasang. Lilin merah kecil batangan berkisar Rp15.000 - Rp30.000,
Sementara untuk vihara/kelenteng ukuran besar (1,6m - 2,2m) mencapai Rp3,7 juta - Rp11,5 juta ke atas, tapi tidak masalah demi penghormatan pada leluhur.
Shio Kuda Api simbul Keberanian
Shio Kuda melambangkan semangat tinggi, kemandirian, dan dorongan untuk maju, sementara unsur Api menambah karakter berani, penuh antusiasme, serta dorongan untuk mengambil risiko.
Kombinasi ini dipandang sebagai simbol perubahan besar dan momentum untuk bertindak lebih cepat dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
Advertisement