GIIAS 2025: Mobil China Ngegas, Jepang Terancam, Indonesia di Persimpangan
Sudah sangat lama saya ingin menonton pameran otomotif ini: Gaikindo Indonesia International Automotive Show (GIAAS). Pameran tahunan yang konon terbesar di Asia di luar China di Gedung ICE BSD City, Tangerang, Banten.
Bukan ingin beli mobil. Tapi ingin melihat tata kelola pamerannya, antusiasme pengunjungnya, dan inovasi peserta pamerannya. Juga ingin melihat persaingan brand otomotif yang makin kompetitif. Dengan makin agresifnya otomotif produk China.
Saya perlu dua hari berturut-turut untuk mengunjungi semua booth yang ada. Mulai hall 1 sampai 11. Hari pertama hanya sempat mengunjungi hall 1-4. Begitu masuk lobby sudah disambut booth Geely. Mobil asal China yang sedang gencar memasarkan mobil listrik maupun hybrid di sini.Β
Di hall ini, mobil brand China sudah nge-gas. Dari 22 merek mobil yang dipamerkan di sini, 7 booth sudah diisi mobil produk China. Mulai dari Aion, Jetour, Xpeng, Aletra, Jaeeco, dan sebagainya. Non China hanya ada brand Audi, Mercedes Benz, Fuso, Hino, Nissan, dan KIA. Demikian juga kalau masuk dari Hall 11. Dominasi brand mobil China sangat terasa.
Saya tidak tahu apakah tahun lalu sudah seperti ini? Yang pasti, booth mobil China langsung menarik perhatian pengunjung dan jadi serbuan mereka. Apalagi disertai dengan perang harga. Bayangkan. BYD tahun ini meluncurkan produk baru Atto 1 dengan bandrol harga di bawah Ro 200 juta. Terang saja, ini menyedot pasar mobil sekelas city car dari Jepang yang selama ini merajai jalanan di Indonesia.
Menurut catatan, GIIAS 2025 yang berlangsung 24 Juli hinggaβ―3 Agustus 2025 menampilkan lebih dari 60 merk otomotif global. Dari jumlah tersebut,Β merk-merk mobil Tiongkok mengambil peran utama. Bahkan terkesan mendominasi hampir di seluruh hall yang menjadi tempat pameran.
Dominasi produsen otomotif Tiongkok dalam GIAAS 2025 ini menandai pergeseran kekuatan struktural dalam industri otomotif nasional. Selama ini, pasar mobil di Indonesia dikendalikan oleh merek-merek Jepang yang dikenal tangguh dan efisien. Kini, mereka menghadapi tantangan serius dari merk China yang menawarkan teknologi tinggi, elektrifikasi, dan harga kompetitif.Β
Hadirnya Xpeng dengan unit X9 buatan lokal dari pabrik Purwakarta, peluncuran BYD Atto 1 di bawah Rp 200 juta, serta debut global merek hybrid Lepas milik Cherry adalah contohnya. Kehadiran mereka tak hanya menjadi pemain pelengkap, melainkan penentu arah industri.Β
Hampir semua merk mobil asal China menawarkan keragaman fitur, keunggulan teknologi listrik, dan harga yang kompetitif. Kini, konsumen mobil di Indonesia bisa menikmati fitur-fitur mobil premium dengan harga sepertiga dari mobil premium produk Jepang maupun Eropa. Bisa menikmati kenyamanan mobil premium dengan nilai ekonomis yang jauh lebih murah.
Kesan saya, hampir semua merk mobil China mengambil benchmark mobil-mobil Jepang dan Eropa. Saya sempat mencoba salah satu mobil premium China dengan merk Aion. Saya merasakan interior dan kenyamanan setara mobil Lexus yang menjadi andalan mobil premium asal Jepang. Demikian juga Xpeng X9 seharga Rp 1 M yang tak kalah dengan Lexus LM yang harganya lebih dari Rp 2 M.
Menyaksikan GIAAS 2025 tak hanya melihat pameran otomotif. Tapi saya menangkap sebuah perubahan ekosistem, bahkan geostrategi industri otomotif dunia. Sementara itu, Indonesia dengan sendiri menghadapi dilema strategis atas perubahan peta domestik maupun global industri otomotif.
Dominasi merk baru mobil asal China ini jelas mengancam struktur perdagangan otomotif yang selama ini bertumpu pada impor dari Jepang dan Korea. Jika tidak ada upaya menyusun ulang kebijakan insentif, perlindungan industri strategis dan pengembangan riset, bisa jadi kita hanya akan menjadi pasar konsumtif baru dari mobil China.Β
Namun, di sisi lain, situasi ini bisa menjadi peluang baru bagi Indonesia. Kita bisa membangun ulang ekosistem otomotif berbasis kendaraan listrik, dengan menjadikan dominasi Tiongkok sebagai katalis transformasi, bukan sekadar kompetisi pasar. Apalagi Indonesia dikenal sebagai produsen bahan baku untuk baterai dengan tambang nikelnya.
Memasuki arena GIAAS 2025, sangat terasa bahwa merk-merk Tiongkok tampil agresif. Sedangkan, produsen otomotif Jepang tampak lebih konservatif dalam merespons disrupsi ini. Meski Toyota, Honda, dan Mitsubishi tetap mempertahankan pangsa pasar yang besar, kehadiran mereka di GIIAS 2025 tidak lagi mendominasi narasi publik seperti tahun-tahun sebelumnya.Β
Strategi elektrifikasi mereka terlihat lamban. Masih bertumpu pada hybrid konvensional yang kini mulai ditinggalkan konsumen yang lebih melek teknologi. Ini memperlihatkan celah yang dimanfaatkan pabrikan Tiongkok, yang dengan cepat membaca arah kebijakan transisi energi Indonesia menuju kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV).Β
Konsumen perkotaan menunjukkan antusiasme tinggi terhadap mobil listrik karena insentif pajak, biaya operasional rendah, dan citra ramah lingkungan. Jika pabrikan Jepang tidak segera mempercepat adaptasi, dominasi mereka yang telah berlangsung selama puluhan tahun bisa runtuh secara struktural dalam dekade ini.
Memang, masuknya investasi dari Tiongkok, seperti pabrik Xpeng dan rencana ekspansi GAC Aion, membuka peluang besar untuk penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, dan peningkatan neraca perdagangan. Namun di sisi lain, ketergantungan yang terlalu besar pada satu negara asal produsen dapat menimbulkan risiko baru terhadap kedaulatan industri.
Pemerintah perlu mengimbanginya dengan kebijakan industrialisasi yang kuat. Perlu segera dibangun ekosistem industri otomotif nasional yang sehat, mulai dari penambangan dan hilirisasi nikel untuk baterai, riset dan pengembangan komponen EV lokal, hingga pelatihan tenaga kerja untuk manufaktur tinggi.Β
Tanpa kerangka regulasi dan roadmap industri yang visioner, Indonesia bisa menjadi βpasar captiveβ baru bagi kendaraan listrik Tiongkok. Bila ini terjadi, maka tak ada nilai tambah signifikan dari sisi industri domestik. Respons terhadap peta baru dalam GIAAS 2025 bisa menentukan nasib kita: Apakah dominasi Tiongkok akan menjadi katalis transformasi atau jebakan baru dalam relasi perdagangan global.
Menurut saya, ada dua pesan penting yang bisa diambil dari GIAAS 2025. Pertama konsumen Indonesia sedang berubah. Mereka lebih terbuka pada merek baru yang menawarkan value for money dan teknologi ramah lingkungan. Kedua, Indonesia sendiri berada di persimpangan strategis: apakah akan menjadi pasar pasif yang hanya menerima arus kendaraan impor, ataukah menjadi aktor aktif yang mengembangkan basis industri dan teknologi kendaraan listrik nasional.Β
Jawabannya sangat tergantung pada keberanian pemerintah dan pelaku industri nasional untuk menyusun strategi industrialisasi baru yang lebih adaptif, inovatif, dan inklusif. Bukan sekadar memberi karpet merah pada investor. Tapi juga memastikan bahwa setiap investasi membawa nilai tambah jangka panjang: penyerapan tenaga kerja terampil, transfer teknologi, serta pertumbuhan wirausaha otomotif lokal.
Di GIAAS 2025, produsen mobil asal China sudah betul-betul nge-gas. Masihkah kita tetap malas untuk menjadi lebih cerdas? Atau cukup puas dengan menjadi konsumen dari kemajuan teknologi negara lain? Rasanya baru beberapa tahun lalu, gagasan membuat mobil listrik di negeri ini dikriminalisasi dan diadili. Masih ingat kan?
Advertisement